Pasang Iklan

7 Risiko Investasi Saham yang Wajib Kamu Tahu dan Cara Mengatasinya

zonatikus.com Investasi saham bisa memberikan imbal hasil yang cukup besar dalam jangka panjang. Di sisi lain, jenis investasi ini juga memiliki risiko yang tidak bisa dianggap enteng. Risiko investasi saham bisa berdampak pada kerugian modal, kesulitan menjual saham, hingga kehilangan semua saham.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk berinvestasi saham, kamu perlu memahami apa saja risiko yang mungkin kamu hadapi. Selain itu, kamu juga perlu mengetahui cara mengatasi risiko tersebut agar investasi saham kamu tetap aman dan menguntungkan.

Apakah kamu siap untuk menjadi investor saham yang cerdas dan tangguh? Jika ya, maka simak terus artikel ini sampai selesai. Jaka akan mengupas tuntas tentang risiko investasi saham dan cara mengatasinya.

Jenis Risiko Investasi Saham

Risiko investasi saham bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Risiko sistematis adalah risiko yang bersumber dari faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pasar saham secara keseluruhan, seperti kondisi ekonomi, politik, sosial, dan bencana alam. Risiko sistematis tidak bisa dihindari atau dikurangi dengan diversifikasi portofolio. Contohnya saja inflasi, resesi, perang, pandemi, dan bencana alam.

Risiko tidak sistematis adalah risiko yang bersumber dari faktor-faktor internal yang mempengaruhi kinerja perusahaan atau sektor tertentu. Risiko tidak sistematis bisa dihindari atau dikurangi dengan diversifikasi portofolio. Contoh risiko tidak sistematis adalah kegagalan manajemen, persaingan usaha, perubahan teknologi, dan skandal korupsi.

Berikut adalah 7 risiko investasi saham yang termasuk dalam kedua jenis risiko tersebut, beserta contoh dan dampaknya:

1. Risiko pasar

Risiko pasar adalah risiko yang disebabkan oleh fluktuasi harga saham di pasar. Risiko pasar bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti permintaan dan penawaran, sentimen investor, berita, rumor, dan spekulasi. Risiko pasar bisa berdampak pada penurunan nilai portofolio saham kamu.

Contoh risiko pasar adalah ketika saham-saham di sektor teknologi anjlok akibat adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

2. Risiko likuiditas

Risiko likuiditas adalah risiko yang disebabkan oleh kesulitan menjual saham yang kamu miliki dengan harga yang wajar. Risiko likuiditas bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti volume transaksi, jumlah pemegang saham, dan ketersediaan informasi. Risiko likuiditas bisa berdampak pada kerugian potensial atau kesempatan yang terlewatkan.

Contoh risiko likuiditas adalah ketika kamu ingin menjual saham perusahaan yang jarang diperdagangkan, tapi tidak ada pembeli yang bersedia membelinya dengan harga yang kamu inginkan.

3. Risiko kredit

Risiko kredit adalah risiko yang disebabkan oleh kemungkinan gagal bayar dari pihak yang terlibat dalam transaksi saham. Risiko kredit bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kualitas kredit, kondisi keuangan, dan reputasi. Risiko kredit bisa berdampak pada kerugian modal atau pendapatan.

Contoh risiko kredit adalah ketika kamu membeli saham obligasi dari perusahaan yang bangkrut, sehingga kamu tidak bisa mendapatkan kembali pokok dan bunga yang kamu investasikan.

4. Risiko operasional

Risiko operasional adalah risiko yang disebabkan oleh kesalahan, kelalaian, atau kegagalan dalam proses bisnis atau sistem yang mendukung transaksi saham. Risiko operasional bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sumber daya manusia, teknologi, infrastruktur, dan regulasi. Risiko operasional bisa berdampak pada kerugian finansial atau reputasi.

Contoh risiko operasional adalah ketika kamu mengalami kesalahan dalam melakukan order saham, sehingga kamu membeli atau menjual saham dengan jumlah atau harga yang salah.

5. Risiko legal

Risiko legal adalah risiko yang disebabkan oleh ketidaksesuaian atau ketidakpatuhan terhadap hukum, peraturan, kontrak, atau standar etika yang berlaku dalam transaksi saham. Risiko legal bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti perubahan hukum, penegakan hukum, perselisihan hukum, dan sanksi hukum. Risiko legal bisa berdampak pada kerugian finansial, reputasi, atau hak-hak kamu sebagai investor saham.

Contoh risiko legal adalah ketika kamu terlibat dalam kasus insider trading, sehingga kamu dikenakan denda atau hukuman penjara.

6. Risiko politik

Risiko politik adalah risiko yang disebabkan oleh perubahan kebijakan, stabilitas, atau hubungan politik yang mempengaruhi pasar saham. Risiko politik bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pemilihan umum, pergantian pemerintahan, konflik politik, dan sanksi internasional. Risiko politik bisa berdampak pada ketidakpastian, volatilitas, atau gangguan pasar saham.

Contoh risiko politik adalah ketika saham-saham di sektor energi turun akibat adanya embargo minyak dari negara-negara Timur Tengah.

7. Risiko mata uang

Risiko mata uang adalah risiko yang disebabkan oleh perubahan nilai tukar mata uang yang mempengaruhi nilai saham yang kamu miliki. Risiko mata uang bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti inflasi, deflasi, suku bunga, neraca perdagangan, dan intervensi pemerintah. Risiko mata uang bisa berdampak pada penurunan daya beli atau pendapatan kamu sebagai investor saham.

Contoh risiko mata uang adalah ketika kamu membeli saham perusahaan asing dengan mata uang asing, tapi nilai mata uang asing tersebut melemah terhadap rupiah, sehingga nilai saham kamu menurun dalam rupiah.

Cara Mengatasi Risiko Dalam Investasi Saham

Setelah mengetahui apa saja risiko investasi saham, tentu kamu tidak ingin mengalami kerugian atau kegagalan dalam berinvestasi saham. Oleh karena itu, kamu perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi risiko tersebut. Berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi risiko dalam investasi saham:

1. Melakukan riset dan analisis

Sebelum kamu membeli saham, kamu perlu melakukan riset dan analisis yang mendalam tentang perusahaan, sektor, dan pasar saham yang kamu tuju. Kamu bisa menggunakan berbagai metode, seperti analisis fundamental, analisis teknikal, analisis sentimen, dan analisis SWOT. Dengan melakukan riset dan analisis, kamu bisa mengetahui potensi, kinerja, dan prospek saham yang kamu pilih, serta menghindari saham-saham yang berisiko tinggi.

3. Membuat rencana investasi

Setelah kamu menentukan saham yang ingin kamu beli, kamu perlu membuat rencana investasi yang jelas dan terukur. Rencana investasi harus mencakup tujuan, strategi, anggaran, jangka waktu, dan evaluasi investasi saham kamu. Dengan membuat rencana investasi, kamu bisa mengatur dan mengawasi investasi saham kamu dengan lebih baik, serta mengambil keputusan yang rasional dan objektif.

4. Melakukan diversifikasi portofolio.

Salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi risiko investasi saham adalah dengan melakukan diversifikasi portofolio. Diversifikasi portofolio adalah strategi untuk menyebarkan investasi saham kamu ke berbagai perusahaan, sektor, atau pasar yang berbeda. Dengan melakukan diversifikasi portofolio, kamu bisa mengurangi risiko tidak sistematis, serta meningkatkan peluang keuntungan dari berbagai sumber.

5. Memanfaatkan instrumen lindung nilai.

Jika kamu ingin melindungi investasi saham kamu dari risiko sistematis, kamu bisa memanfaatkan instrumen lindung nilai. Instrumen lindung nilai adalah instrumen keuangan yang bisa digunakan untuk mengunci harga, nilai, atau tingkat pengembalian investasi saham kamu. Beberapa contoh instrumen lindung nilai adalah opsi, futures, forward, dan swap. Dengan memanfaatkan instrumen lindung nilai, kamu bisa mengurangi risiko pasar, kredit, politik, dan mata uang.

6. Menjaga disiplin dan konsistensi

Terakhir, tapi tidak kalah penting, kamu perlu menjaga disiplin dan konsistensi dalam berinvestasi saham. Kamu harus selalu mengikuti rencana investasi yang sudah kamu buat, serta menghindari emosi, ego, atau godaan yang bisa mengganggu investasi saham kamu. Kamu juga harus selalu belajar dan mengupdate pengetahuan kamu tentang investasi saham, serta mengikuti perkembangan pasar saham yang dinamis dan kompetitif. Dengan menjaga disiplin dan konsistensi, kamu bisa menjadi investor saham yang sukses dan profesional.

Akhir Kata

Risiko investasi saham bisa bersumber dari faktor-faktor eksternal atau internal yang mempengaruhi pasar saham, perusahaan, atau sektor tertentu. Risiko investasi saham bisa berdampak pada kerugian modal, pendapatan, atau reputasi kamu sebagai investor saham.

Untuk mengatasi risiko investasi saham, kamu perlu melakukan beberapa langkah, seperti melakukan riset dan analisis, membuat rencana investasi, melakukan diversifikasi portofolio, memanfaatkan instrumen lindung nilai, dan menjaga disiplin dan konsistensi. Dengan mengatasi risiko investasi saham, kamu bisa berinvestasi saham dengan lebih aman dan menguntungkan.

zonatikus.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *